klik gambar di bawah
KINI
EBOOK BUKU2 SPRITUAL
SUDAH DAPAT DI DOWNLOAD GRATIS
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Manusmṛti bukan wahyu.
Ia tidak turun dari langit.
Ia lahir dari debu istana,
dari tinta para Brahmana yang hidup di tengah kekuasaan,
ketakutan, dan kepentingan.
Jangan sembah.
Tapi jangan pula buang begitu saja.
Di balik norma-norma yang kini usang—tentang kasta,
gender, dan ritual—tersimpan peringatan moral yang masih berdenyut:
bahwa kekuasaan tanpa integritas adalah racun;
bahwa uang yang lahir dari penipuan, pemerasan,
atau suap adalah api yang membakar tidak hanya si pemilik,
tapi seluruh jaringan sosial di sekitarnya;
dan bahwa karma bukan hukuman ilahi,
melainkan konsekuensi yang tak terhindarkan dari keputusan kolektif yang korup.
Buku ini bukan apologi.
Bukan pula penghakiman sepihak.
Ini adalah ajakan untuk membaca Manusmṛti
dengan mata terbuka—mengambil yang masih hidup,
membuang yang membusuk,
dan menggunakan warisan kritis itu
untuk menelanjangi wajah kekuasaan di zaman kita sendiri.
-----------------------------
ADA RACUN YANG TAK PERNAH BASI.
Ia mungkin dibungkus dengan bahasa suci,
disampul emas tradisi,
dan dijaga oleh menara gading otoritas.
Tapi racun tetaplah racun.
Waktu tak bisa membuatnya kadaluarsa.
Usia ribuan tahun justru membuatnya makin pekat,
makin meresap dalam sumsum peradaban.
Ini bukan tentang masa lalu.
Ini tentang warisan ketidakadilan
yang masih kita minum setiap hari—
dari mata air yang sama,
dari teks yang sama,
dari cara berpikir yang sama.
Buku ini adalah pisau bedah
untuk mengeluarkan racun itu.
Kita akan membedah Manusmṛti
bukan sebagai kitab suci,
tapi sebagai dokumen kekuasaan—
yang mengajarkan segalanya
tentang bagaimana segelintir
orang mengontrol yang banyak,
dengan uang haram
yang meracuni darah keturunan,
dan karma sosial yang terus berputar
seperti roda yang tak berhenti.
Bersiaplah.
Karena yang akan Anda baca
bukan lagi dongeng suci,
tapi laporan otopsi atas mayat yang masih bernafas.
Dan mayat itu bernama: Keadilan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Ditulis dengan keberanian untuk mempertanyakan dogma
dan relevansi spiritual di era modern,
"AFTERLIFE JOURNEY MENGGAPAI YANG TAK TERJELASKAN"
adalah cermin bagi hidup Anda hari ini.
Setiap halaman memaksa Anda untuk bertanya:
"Sudah siapkah saya menghadapi perjalanan terbesar ini?"
dengan gaya bahasa yang mendalam namun mudah dicerna,
AFTERLIFE JOURNEY bukan sekadar buku teori.
Ini adalah panduan transformatif untuk memahami rahasia terbesar kehidupan,
membantu Anda menjalani hidup saat ini dengan lebih sadar,
bermakna, dan bebas dari ketakutan.
Buku ini menyingkap salah satu misteri terbesar umat manusia—
perjalanan jiwa setelah kematian—tanpa sensasi murahan dan tanpa dogma.
Dengan pijakan pada ajaran klasik seperti Garuda Purana,
Dharmashastra, dan berbagai teks Veda,
AFTERLIFE JOURNEY menguraikan dengan jernih
bagaimana jiwa melewati fase transisi,
menghadapi pantulan karmanya,
dan diarahkan menuju alam-alam pembelajaran berikutnya.
"Sebuah penjelajahan spiritual yang berani,
mengajak kita memaknai hidup dengan menyelami misteri kematian."
— Sogatha Mahardika
"Bacalah jika Anda berani mengetahui konsekuensi sebenarnya
dari setiap pilihan hidup Anda."
------------------------
tema utama
Perjalanan jiwa setelah kematian, hukum karma, reinkarnasi, moksha, dan relevansinya dengan kehidupan modern
cocok pada
Pencari spiritual dari kalangan umum
Mereka yang ingin memahami kematian dan kehidupan setelahnya
Generasi modern yang skeptis terhadap ritual tetapi haus makna
Para korban ketidakadilan yang mempertanyakan keadilan kosmis
yukk..
grab it fast...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Ini bukan buku untuk mereka yang ingin merasa nyaman.
Ini buku untuk mereka yang berani mengakui bahwa manusia modern
sedang membunuh dirinya sendiri—perlahan, pasti, dan dengan sukarela.
Kita diperalat benda yang kita beli,
diperbudak ambisi yang kita banggakan,
dan ditipu oleh ritual—baik yang kuno maupun yang modern.
Ribuan tahun lalu masyarakat sudah tenggelam dalam kebodohan yang sama:
ritualisme tanpa jiwa, keserakahan tanpa batas,
dan pelarian spiritual yang pengecut.
Ritual-ritual Veda menjadi semakin rumit, mahal, dan hampa makna;
spiritualitas berubah menjadi formalitas tanpa jiwa.
Orang awam terjebak dalam kesenangan dan kekayaan,
sementara para pertapa ekstrem menolak dunia sepenuhnya.
Dua ekstrem yang seolah bertentangan, namun sama-sama melupakan inti paling sederhana: memahami diri.
Īśā Upaniṣad muncul sebagai tamparan paling kasar:
“Dunia bukan punyamu. Hentikan delusi kepemilikanmu, atau hidupmu sendiri akan menghancurkanmu.”
Buku ini menyingkap sisi tergelap manusia:
ketakutan kehilangan, kecanduan kontrol,
dan ego yang tak pernah kenyang.
Tidak menawarkan pelarian.
Tidak menjanjikan ketenangan instan.
Hanya memberikan satu kebenaran pahit:
ketenangan datang setelah kita berhenti mencengkeram segalanya.
Ini cermin yang memaksa kita melihat kebodohan diri sendiri—
dan menawarkan jalan keluar yang sederhana namun sulit
bukan ritual, tetapi pengetahuan langsung (jnana) yang membebaskan.
Bukan pelarian dari dunia, melainkan jalan tengah:
“Hidupilah dunia, tetapi jangan melekat padanya.”
Dalam era kita hari ini—ritualisme modern yang berupa gaya hidup pencitraan,
kompetisi digital, materialisme tanpa arah—
pesan ini kembali terasa relevan dan menohok.
Bacalah kalau berani.
--------------------------
“Anti-Ritual Kosong, Anti-Egoisme:
Intepretasi Paling Berani Īśā Upaniṣad”
Kitab Anti-Serakah yang Dilupakan Zaman Modern
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inti pesan dari buku "KESADARAN DALAM KESEHARIAN" oleh Sogatha Mahardika,
Inti Pesan Utama: Mencapai Kedamaian dan Hidup Bermakna melalui Kesadaran Diri dan Kebiasaan Sederhana
Buku ini menekankan bahwa kunci hidup yang tenang, bermakna, dan bahagia terletak pada:
1. Kekuatan Diam dan Ketidakreaktifan: Diam bukanlah kelemahan, melainkan strategi elegan untuk menghadapi konflik, provokasi, dan manipulasi. Dengan tidak terpancing secara emosional, Anda menghemat energi dan membiarkan kebenaran serta karma berbicara dengan sendirinya.
2. Kesadaran Diri dan Pengendalian Diri: Penting untuk mengenali dan menghilangkan kebiasaan mental serta pola perilaku yang merugikan, seperti:
Membutuhkan validasi eksternal.
Terjebak dalam perbandingan sosial.
Ekspektasi yang tidak realistis.
Menyalahkan orang lain atau keadaan.
Ketakutan akan kegagalan dan penolakan terhadap perubahan.
3. Fokus pada Apa yang Dapat Dikendalikan: Kebahagiaan dan kedamaian datang dari memusatkan perhatian hanya pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, yaitu tindakan, sikap, dan respons kita terhadap peristiwa, bukan pada hal-hal di luar kendali seperti pendapat orang lain atau masa depan.
4. Transformasi melalui Kebiasaan Kecil yang Konsisten: Perubahan hidup yang besar tidak datang dari tindakan spektakuler, tetapi dari disiplin dalam kebiasaan sehari-hari yang sederhana, seperti:
Bangun pagi dan memulai hari dengan tenang.
Membatasi penggunaan gawai/media sosial.
Makan dengan sadar dan pelan.
Olahraga ringan secara teratur.
Menulis jurnal untuk refleksi dan syukur.
Menjadi pendengar yang baik.
5. Integritas dan Kebijaksanaan: Menjadi pribadi yang menarik dan dihargai berasal dari tindakan yang konsisten, integritas (menepati janji), rendah hati, empati, dan kemampuan untuk berbicara dengan bijak (termasuk menggunakan humor dengan elegan).
6. Hidup di Saat Ini (Mindfulness): Buku ini mendorong pembaca untuk hadir sepenuhnya dalam momen saat ini, melepaskan beban masa lalu dan kekhawatiran masa depan, untuk menemukan ketenangan.
Secara ringkas, pesan buku ini adalah:
Hidup yang bermakna dan damai bukanlah tentang kesempurnaan atau memiliki segalanya, tetapi tentang kejujuran pada diri sendiri, disiplin dalam kebiasaan kecil yang positif, dan kebijaksanaan dalam mengelola pikiran serta respons terhadap dunia di sekitar kita. Perubahan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, bukan dari motivasi sesaat.

Inti pesan dari buku "Secangkir Kopi Kesadaran 2" oleh Sogatha Mahardika,
Seruan untuk mencapai "Pencerahan Nurani" melalui penerimaan total terhadap kehidupan, pelepasan keterikatan, dan kesadaran penuh akan hukum sebab-akibat (karma), sebagai jalan untuk menemukan kedamaian batin dan kebahagiaan sejati di tengah segala suka dan duka.
Pesan-pesan utama dalam buku ini dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Pencerahan Nurani sebagai Tujuan: Konsep "Pencerahan Nurani" atau kesadaran sejati menjadi tema sentral yang berulang. Ini digambarkan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai perjalanan terus-menerus untuk memahami diri dan hidup dengan lebih dalam dan bijaksana.
2. Penerimaan Total dan Melepaskan Keterikatan: Buku ini sangat menekankan pentingnya menerima segala sesuatu apa adanya—baik suka, duka, rintangan, maupun hasil—tanpa melawan. Melepaskan keterikatan pada keinginan, ego, ekspektasi, dan hal-hal duniawi dianggap sebagai kunci utama menuju ketenangan batin.
3. Hukum Sebab-Akibat (Karma) dan Pelunasan: Pesan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi ditekankan lebih kuat. Penderitaan dan tantangan hidup sering kali dilihat sebagai proses "pelunasan karma" yang perlu dijalani dengan kesadaran dan kesabaran untuk membersihkan diri dan tumbuh.
4. Kebahagiaan Sejati Berasal dari Dalam: Kebahagiaan digambarkan bukan sebagai sesuatu yang dicari di luar diri, melainkan hasil dari bersyukur, hati yang tulus, dan pikiran yang tenang. Kebahagiaan ditemukan dalam kesederhanaan dan kemampuan menerima keadaan.
5. Bertindak Baik tanpa Pamrih: Buku ini mendorong untuk terus berbuat baik dengan tulus, tanpa mengharapkan balasan atau merasa lebih baik dari orang lain. Kebaikan dilihat sebagai bagian dari menjalankan peran dan Dharma kita di dunia.
6. Kedamaian Dimulai dari Diri Sendiri: Pesan kuat bahwa perdamaian dunia hanya bisa terwujud jika setiap individu telah menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri. Peperangan terberat adalah melawan ego, amarah, dan ketakutan dalam diri sendiri.
7. Spiritualitas yang Universal dan Esensial: Buku ini kembali menekankan bahwa esensi spiritual (seperti cinta kasih, kejujuran, welas asih) lebih penting daripada label agama, ritual, atau dogma. Tuhan lebih peduli pada perbuatan nyata daripada seberapa banyak ayat yang dihafal.
Secara keseluruhan, buku 2 ini seperti kelanjutan yang lebih matang dan mendalam dari buku pertama. Jika buku 1 memperkenalkan konsep kesadaran diri, buku 2 ini membawa pembaca lebih dalam menuju "Pencerahan Nurani" dengan penekanan yang kuat pada penerimaan, pelepasan, dan memahami hukum karma sebagai jalan praktis menuju kebebasan batin dan hidup yang bermakna.
Inti pesan dari buku "PESAN PESAN REG WEDA SAMITHA" oleh Sogatha Mahardika,
Menyajikan intisari dan esensi spiritual dari Rigveda (Kitab Suci Weda yang paling tua) dalam bentuk yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan modern, dengan menekankan pada kesatuan hakikat spiritual di balik segala keragaman.
Pesan-pesan utama buku ini dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Kesatuan dalam Keberagaman (Monisme): Ini adalah tema sentral. Buku ini berulang kali mengutip ayat terkenal dari Rigveda (1.164.46): "Kebenaran itu tunggal, para bijak menyebutnya dengan berbagai nama" (Ekam sadviprā bahudhā vadantyagnim). Pesan ini menegaskan bahwa semua dewa, agama, dan bentuk spiritualitas yang beragam pada hakikatnya bersumber dari Kebenaran Tunggal yang sama. Ini juga tercermin dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
2. Mengenal Esensi, Bukan Hanya Ritual: Penulis berusaha keras untuk "mentranskreasikan" (bukan sekadar menerjemahkan) makna mendalam dari mantra-mantra Weda. Tujuannya adalah agar pembaca memahami esensi filosofis dan spiritual di balik simbol-simbol (seperti dewa Agni, Soma, dan lain-lain), dan tidak hanya terpaku pada ritual atau unsur mitologisnya.
3. Pentingnya Kesadaran Diri dan Pencerahan: Rigveda, melalui mantra-mantranya seperti Gayatri Mantra, digambarkan sebagai sarana untuk mencerahkan pikiran dan kesadaran. Tujuannya adalah membimbing individu untuk memiliki kebijaksanaan dalam membedakan yang benar dan salah, serta mencapai pencerahan nurani.
4. Konsep Ketuhanan yang Inklusif dan Universal: Buku ini menjelaskan berbagai dewa dalam Rigveda (seperti Agni, Indra, Wisnu, Surya) bukan sebagai entitas yang terpisah, tetapi sebagai manifestasi dari berbagai aspek dan fungsi Tuhan Yang Esa dalam memelihara alam semesta (contoh: Wisnu sebagai "pemelihara"/"maintenance").
5. Relevansi dengan Kehidupan Modern: Penulis secara aktif menghubungkan ajaran Weda kuno dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, seperti:
Kebenaran (Satya) dan Menjalankan Kewajiban (Dharma) sebagai fondasi hidup.
Keseimbangan dengan alam dan sesama.
Tanggung jawab atas pikiran dan perbuatan (karma).
Hidup sederhana dan penuh syukur.
6. Spiritualitas yang Terapan: Buku ini menekankan bahwa Weda adalah "pengetahuan yang dapat diaplikasikan". Pesannya mendorong pembaca untuk tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga meluangkan waktu untuk hening, meditasi, dan refleksi diri sebagai bagian dari praktik spiritual.
Secara keseluruhan, buku ini berfungsi sebagai panduan ringkas dan interpretasi yang mudah dicerna untuk memahami khazanah kebijaksanaan Rigveda. Penulis ingin menunjukkan bahwa pesan-pesan universal tentang kebenaran, kesatuan, kesadaran, dan hidup yang harmonis yang terkandung dalam kitab suci kuno ini tetap sangat relevan sebagai penuntun spiritual bagi manusia modern.
Inti pesan dari buku "Secangkir Kopi Kesadaran 1" oleh Sogatha Mahardika, inti pesan bukunya adalah seruan untuk mengembangkan kesadaran diri dan spiritual sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati dan kehidupan yang bermakna.
Pesan-pesan utama dalam buku ini dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Kebahagiaan Sejati Berasal dari Dalam Diri: Buku ini berulang kali menekankan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada hal-hal materiil atau kondisi eksternal, melainkan pada kedamaian batin, penerimaan diri, dan kemampuan untuk bersyukur.
2. Kesadaran Diri adalah Kunci: Pengenalan akan diri sendiri, pikiran, perasaan, dan sifat sejati kita dianggap sebagai fondasi untuk tumbuh dan mencapai pencerahan nurani.
3. Pentingnya Welas Asih dan Cinta Kasih: Penulis menekankan untuk mengasah sikap welas asih, baik kepada diri sendiri maupun semua makhluk, tanpa memandang latar belakang. Cinta kasih dilihat sebagai kekuatan pemersatu yang universal, melampaui batas agama dan dogma.
4. Hidup di Saat Ini (Mindfulness): Buku ini mengajak pembaca untuk fokus pada momen saat ini, meninggalkan penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan, serta menemukan keheningan dan kedamaian dalam diri.
5. Penerimaan dan Keikhlasan: Menerima segala sesuatu apa adanya, termasuk kekurangan diri, kegagalan, dan penderitaan sebagai bagian dari proses belajar dan pelunasan karma, dianggap sebagai jalan menuju kedamaian batin.
6. Tanggung Jawab atas Pikiran dan Tindakan: Buku ini mengingatkan tentang hukum sebab-akibat (karma), di mana setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan akan membawa konsekuensi, sehingga mendorong untuk selalu berbuat baik dan bijaksana.
7. Mencari Makna di Luar Materi: Kesuksesan dan kesempurnaan hidup yang sejati didefinisikan bukan dengan pengumpulan harta, melainkan dengan kemampuan untuk bersyukur, berbagi, dan hidup penuh arti.
Secara keseluruhan, buku ini berfungsi sebagai panduan ringkas dan renungan harian yang mendorong pembaca untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, menemukan ketenangan dan kebijaksanaan dari dalam, serta menjalani hidup dengan lebih sadar, penuh cinta kasih, dan syukur.
Inti pesan dari buku "PESAN NARADA" karya Sogatha Mahardika,
Inti Pesan Utama: Kasih (Cinta Tak Bersyarat) sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati dan Kesadaran Tertinggi
1. Kasih adalah Satu-satunya Sumber Kebahagiaan Sejati
- Hanya kasih yang tak terbatas dan tak bersyarat yang dapat memuaskan dan membahagiakan manusia.
- Kasih adalah "sebab", dan kebahagiaan sejati adalah "akibat" yang tidak terpisahkan darinya.
2. Kasih adalah Hakikat Tuhan dan Diri
- Tuhan adalah perwujudan kasih sejati.
- Pusat kasih berada di dalam diri setiap manusia, bukan di luar.
- Mengenal kasih = mengenal Tuhan.
3. Kasih Membebaskan
- Dari keinginan, kekhawatiran, kesedihan, dan keterikatan duniawi.
- Dari dualitas (suka/duka, baik/buruk).
- Dari ego dan kesadaran ilusif.
4. Kasih Bukan Nafsu atau Keterikatan
- Kasih sejati tidak menuntut, tidak mengurung, tidak memiliki, dan tidak mengharapkan imbalan.
- Kasih adalah pemberian tanpa syarat, seperti alam memberi cahaya matahari atau udara.
5. Kasih Dapat Dicapai dengan Beberapa Cara:
- Melalui pengorbanan tanpa pamrih.
- Melalui pelayanan kepada sesama.
- Dengan mengingat Tuhan dalam setiap kegiatan.
- Dengan menyadari kehadiran-Nya di dalam diri.
- Dengan menghindari pergaulan yang tidak mendukung perkembangan kasih.
6. Kasih adalah Tujuan Akhir Semua Jalan Spiritual
- Melebihi karma (perbuatan), gyaana (pengetahuan), dan yoga (meditasi).
- Kasih adalah mahkota dari semua praktik spiritual.
7. Pencinta Sejati (Bhakta) Adalah Cahaya bagi Dunia
- Mereka yang hidup dalam kasih menjadi berkat bagi keluarga, masyarakat, dan alam.
- Mereka melihat kesatuan dalam keragaman, tidak terpengaruh oleh perbedaan suku, agama, atau status.
8. Kasih Tidak Dapat Dijelaskan, Hanya Dapat Dialami
- Seperti rasa manis atau asin, kasih harus dirasakan sendiri.
- Kata-kata hanya alat bantu, tetapi esensi kasih melampaui bahasa.
Kesimpulan Singkat:
Buku ini mengajak pembaca untuk beralih dari pencarian di luar diri ke pencarian di dalam diri, menemukan pusat kasih yang sudah ada di dalam hati, dan menjadikan kasih tak bersyarat sebagai landasan hidup sehari-hari. Dengan begitu, kebahagiaan sejati, kedamaian, dan pencerahan dapat diraih.
> "Temukan Kasih di dalam dirimu, dan engkau telah menemukan segalanya."
> — Pesan Narada
Inti pesan dari buku "Trilogi of Sidhartha" karya Sogatha Mahardika,
1. Pencarian Kebenaran Harus Dilakukan Sendiri
- Kebenaran sejati tidak dapat ditemukan hanya melalui ajaran orang lain, ritual, kitab suci, atau guru. Setiap individu harus mengalami dan menemukannya melalui pengalaman pribadi.
- Siddhartha meninggalkan ayahnya, para Samana, bahkan Buddha Gotama, karena menyadari bahwa pencerahan tidak dapat diajarkan, hanya dialami.
2. Melepaskan Diri dari Keterikatan
- Keterikatan pada harta, status, cinta, bahkan pengetahuan, hanya membawa penderitaan dan ilusi.
- Siddhartha mengalami sendiri bagaimana kehidupan duniawi (sebagai pedagang, kekasih Kamala) justru membuatnya kosong dan terjebak dalam Samsara.
3. Menerima Kehidupan Apa Adanya
- Kebahagiaan sejati datang ketika kita berhenti melawan hidup dan mulai menerima segala sesuatu sebagaimana adanya.
- Dari sungai, Siddhartha belajar bahwa hidup mengalir seperti air — tidak melawan, tidak berhenti, tetapi terus bergerak dalam keheningan dan penerimaan.
4. Waktu Adalah Ilusi
- Masa lalu dan masa depan hanyalah ilusi. Yang ada hanyalah kekinian (masa kini).
- Ketika waktu dilampaui, penderitaan pun ikut terlampaui. Semua yang tampak terpisah — suka dan duka, hidup dan mati — sebenarnya adalah satu.
5. Cinta dan Kasih sebagai Inti Kehidupan
- Cinta bukanlah keterikatan, tetapi penerimaan tanpa syarat. Siddhartha belajar mencintai dunia tanpa ingin memilikinya.
- Cinta yang sejati adalah pengakuan bahwa segala sesuatu — bahkan batu atau sungai — adalah bagian dari kesatuan yang sama.
6. Berhenti Mencari, Mulai Menemukan
- Pencarian tanpa henti justru menghalangi penemuan. Ketika Siddhartha berhenti mencari, barulah ia mulai menemukan.
- Pencerahan bukanlah tujuan di masa depan, tetapi keadaan yang sudah ada di dalam diri, di sini dan sekarang.
7. Belajar dari Alam dan Keheningan
- Sungai, pohon, batu, dan alam sekitar adalah guru terbaik. Mereka mengajarkan kesabaran, keabadian, dan kesatuan.
- Meditasi dan keheningan membantu kita mendengar suara hati sendiri — suara "Om" yang abadi.
8. Setiap Orang Memiliki Jalan Sendiri
- Sebagaimana Siddhartha membiarkan anaknya pergi, setiap orang harus menjalani prosesnya sendiri. Tidak ada yang bisa diselamatkan atau dicerahkan oleh orang lain.
Pesan Spiritual Utama:
> Kebenaran tidak dapat diajarkan, hanya dialami. Kedamaian sejati terletak pada penerimaan, cinta tanpa ikatan, dan kesadaran bahwa segala sesuatu sudah sempurna sebagaimana adanya.
Buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan spiritual Siddhartha, tetapi juga menjadi cermin bagi pembaca untuk melakukan refleksi diri: Apakah kita masih terjebak dalam pencarian tanpa ujung? Apakah kita sudah berani mendengarkan suara hati sendiri?

Inti pesan dari buku "Bodhi Citta" oleh Sogatha Mahardika adalah:
Transformasi Diri melalui Bodhi Citta: Buku ini membahas tentang Bodhi Citta, yang dianggap sebagai konsep unik dan baru, dan bagaimana ajaran ini dapat membawa transformasi diri. Bodhi Citta sendiri mengacu pada pikiran pencerahan, yang melibatkan pengembangan cinta kasih, kebijaksanaan, dan dedikasi untuk mencapai pencerahan demi manfaat semua makhluk.
Pentingnya Ajaran Dharmakirti: Ajaran-ajaran Dharmakirti, seorang guru besar dari Svarnadvipa (Sumatera), memiliki pengaruh besar terhadap Atisha, yang kemudian menyebarkan ajaran Bodhi Citta di Tibet. Dharmakirti menekankan pentingnya kesadaran, welas asih, dan praktik meditasi dalam mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan realitas.
Latihan Tong-Len: Buku ini memperkenalkan latihan Tong-Len, yang berarti memberi dan menerima. Latihan ini melibatkan memberi cinta kasih dan kebajikan kepada orang lain sambil menerima segala macam hujatan dan kebencian. Tujuannya adalah untuk mengembangkan welas asih dan mengatasi ego.
Empat Belas Poin Penting: Buku ini menguraikan serangkaian latihan dan prinsip yang membantu pembaca dalam mengembangkan Bodhi Citta. Prinsip-prinsip ini mencakup mengenali kebenaran, mengatasi rintangan pikiran, berlatih memberi dan menerima, dan menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Mengatasi Rintangan dan Kebingungan: Buku ini membahas berbagai rintangan dan kebingungan yang mungkin dihadapi seseorang dalam perjalanan spiritual, seperti keterikatan pada ego, dualitas, dan ketidaktahuan. Ia menawarkan panduan tentang cara mengatasi rintangan-rintangan ini dan mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang kesunyataan.
Pentingnya Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari: Buku ini menekankan pentingnya menerapkan kesadaran dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pikiran, ucapan, dan tindakan. Ia mendorong pembaca untuk hidup selaras dengan kebenaran universal dan untuk mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan dalam semua yang mereka lakukan.
Keseimbangan antara Meditasi dan Tindakan: Buku ini menyoroti perlunya menyeimbangkan latihan meditasi dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa meditasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengembangkan kualitas-kualitas positif dan untuk berkontribusi pada kebaikan dunia.
Transformasi Diri sebagai Kunci: Buku ini menekankan bahwa transformasi diri adalah kunci untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Dengan mengembangkan Bodhi Citta dan dengan menerapkan prinsip-prinsip ajaran dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat membantu mewujudkan perdamaian, kebahagiaan, dan harmoni bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Inspirasi dari Leluhur dan Guru: Buku ini menginspirasi pembaca untuk menghormati dan menghidupkan ajaran-ajaran dari para leluhur dan guru spiritual. Ia menekankan bahwa ajaran-ajaran ini adalah panduan untuk menemukan jalan spiritual dan untuk mencapai pemenuhan diri.
Buku ini mengajak pembaca untuk bangkit dari tidur kesadaran, melepaskan belenggu pikiran dan ego, serta hidup dalam keadaan Bodhicitta — kesadaran penuh kasih yang menyatu dengan alam semesta. Pesannya sangat relevan bagi siapa saja yang mencari kedamaian batin dan makna hidup yang lebih dalam, terlepas dari latar belakang agama atau budaya.
### 🕉️ Inti Pesan Utama Buku Ini:
inti pesan utama dari buku "Pesan Niti Sastra Warisan Leluhur"
1. Kembali pada Kearifan Lokal dan Jati Diri Bangsa
- Penekanan kuat untuk tidak melupakan warisan leluhur Nusantara (seperti Sriwijaya, Majapahit, nilai-nilai luhur, dan ajaran spiritual asli).
- Kritik terhadap kecenderungan masyarakat yang lebih menghargai budaya, agama, dan bahasa asing, sehingga melupakan akar budayanya sendiri.
- Ajakan untuk menjaga identitas nasional di atas perbedaan suku, agama, dan ras.
2. Spiritualitas yang Membebaskan dan Humanis
- Tuhan dipandang sebagai Sang Pembebas, bukan pemberi rezeki atau hukuman.
- Spiritualitas sejati terletak pada pembebasan diri dari keterikatan duniawi, bukan ritual formalistik.
- Penekanan pada cinta kasih, welas asih, dan pengampunan sebagai inti dari semua agama.
3. Kepemimpinan yang Berintegritas dan Melayani
- Pemimpin harus mampu mengambil hati rakyat, bijaksana, berani, dan tidak egois.
- Kepemimpinan sejati adalah yang mengedepankan kepentingan rakyat, bukan kekuasaan atau pencitraan.
- Kritik tajam terhadap pemimpin yang korup, penjilat, dan hanya mementingkan kelompoknya.
4. Pendidikan dan Pengetahuan yang Memberdayakan
- Pengetahuan harus dialami dan dihayati, bukan sekadar dihafal.
- Gelar akademis tidak menjamin kebijaksanaan; yang penting adalah pengalaman langsung dan kesadaran.
- Pendidikan harus membebaskan pikiran, bukan membatasi dengan dogma.
5. Hidup Berkesadaran dan Berbasis Kearifan
- Ajakan untuk hidup di saat ini (keKinlan), penuh syukur, dan selaras dengan alam.
- Pengendalian diri terhadap hawa nafsu (seperti keserakahan, amarah, kesombongan) melalui meditasi dan laku hidup sederhana.
- Pentingnya Tri Hita Karana (harmoni dengan Tuhan, alam, dan sesama) dan Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata, berbuat baik).
6. Kritik Sosial dan Refleksi atas Kondisi Bangsa
- Kritik terhadap fanatisme agama, kekerasan atas nama agama, dan politisasi identitas.
- Keprihatinan atas budaya korupsi, ketidakadilan, dan lemahnya penegakan hukum.
- Ajakan untuk bangkit dari "tidur" dan mengambil peran dalam membangun negeri.
7. Pesan tentang Kematian dan Karma
- Hanya perbuatan baik (karma) yang akan menemani manusia setelah kematian.
- Keyakinan pada hukum sebab-akibat (karma) dan siklus kelahiran kembali (reinkarnasi).
- Tujuan hidup tertinggi adalah moksha—kebebasan dari siklus kehidupan dan kematian.
8. Ajaran tentang Hubungan Sosial dan Keluarga
- Pentingnya gotong royong, saling menghormati, dan menjaga harmoni dalam keluarga dan masyarakat.
- Nasihat tentang memilih pasangan hidup, mendidik anak, dan menghormati orang tua serta guru.
Gaya Penyampaian
- Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, kontemporer, dan provokatif, menggunakan contoh-contoh aktual (media sosial, politik, isu agama) agar mudah dipahami generasi sekarang.
- Penulis sering menyelipkan humor, sindiran, dan kritik pedas terhadap fenomena sosial-politik di Indonesia.
Kesimpulan
Buku ini adalah seruan untuk kembali pada nilai-nilai luhur leluhur Nusantara sambil menghadapi tantangan zaman dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan integritas. Ia mengajak pembaca untuk berpikir kritis, hidup bijak, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa tanpa terjerumus dalam fanatisme, korupsi, atau penjajahan budaya asing.
ASHWATHAMA
1. Penyatuan Spiritual dan Agama
Buku ini menekankan bahwa semua agama dan kepercayaan pada hakikatnya bersumber dari **Tuhan Yang Sama**, meskipun memiliki nama, simbol, dan jalan yang berbeda. Penulis mengutip prinsip *Bhinneka Tunggal Ika* dan *Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti* ("Kebenaran Satu, Orang Bijak Menyebutnya dengan Banyak Nama") sebagai landasan filosofinya.
2. Ashwathama sebagai Simbol Penderitaan, Dendam, dan Penebusan
Ashwathama digambarkan bukan hanya sebagai tokoh mitologi, melainkan simbol manusia yang:
- Dipenuhi dendam dan penderitaan.
- Mencari penebusan melalui pengembaraan spiritual.
- Dipertautkan dengan figur-figur lain seperti Adam, Babaji, Nabi Khidir, dan bahkan Yesus, untuk menunjukkan kesinambungan spiritual antar zaman dan tradisi.
3. Hubungan Sejarah dan Budaya Antar-Peradaban
Penulis mengajak pembaca untuk melihat:
- Keterkaitan budaya India, Arab, dan Nusantara.
- Teori bahwa Ashwathama mungkin adalah Adam dalam tradisi Abrahamik, dan bahwa Arabia (Arvasthan) memiliki akar budaya yang sama dengan peradaban Bharata (India kuno).
- Peran tokoh-tokoh seperti Kripacharya yang diidentikkan dengan Nabi Khidir, serta koneksi antara tradisi Veda dan Islam.
4. Ajaran Meditasi, Cinta, dan Kebijaksanaan
Buku ini juga berisi ajaran-ajaran spiritual praktis:
- Pentingnya meditasi dan keheningan.
- Transformasi energi negatif (seperti kebencian) menjadi welas asih.
- Peran guru spiritual dalam membimbing murid menuju pencerahan.
5. Pesan untuk Manusia Modern
Penulis menyerukan:
- Kesadaran akan akar budaya Nusantara yang inklusif dan toleran.
- Pentingnya menyelami "RASA" dan hati nurani di tengah kehidupan modern.
- Ajaran untuk hidup sederhana, penuh syukur, dan dekat dengan alam serta spiritualitas.
Kesimpulan Utama
> **Pesan inti buku ini adalah: meskipun manusia berasal dari tradisi dan keyakinan yang berbeda, kita semua adalah satu dalam spiritualitas. Penderitaan, pencarian, dan penebusan adalah bagian dari perjalanan setiap jiwa menuju kesadaran tertinggi — dan itu bisa dicapai melalui cinta, meditasi, dan kebijaksanaan.**
Buku ini juga dapat dilihat sebagai **seruan untuk melampaui fanatisme agama** dan merayakan keragaman sebagai anugerah ilahi.

### 🕉️ Inti Pesan Utama Buku Ini:
Buku ini menyampaikan wejangan atau nasihat agung dari Bhisma kepada Yudistira tentang bagaimana memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana, serta bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna. Pesan-pesan utamanya terbagi dalam beberapa tema besar:
1. Tentang Kepemimpinan yang Adil (Dandaneti)
- Dandaneti adalah ilmu tentang tata negara dan pemerintahan yang disusun oleh Brahma. Seorang pemimpin (Raja) bertanggung jawab penuh untuk menegakkan keadilan, kebenaran (Dharma), dan melindungi rakyatnya.
- Pemimpin harus bijaksana, tegas (tidak lemah atau terlalu kejam), waspada, cerdik, dan mampu mengendalikan diri.
- Kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama. Seorang pemimpin harus seperti ibu yang melindungi anaknya.
- Pemimpin menciptakan Zaman (Yuga). Kualitas kepemimpinan menentukan apakah kerajaan berada dalam Zaman Keemasan (Satyayuga) atau Zaman Kerusakan (Kaliyuga).
2. Tentang Jalan Hidup Manusia (Dharma, Artha, Kama, Moksa)
- Tiga tujuan hidup manusia (Trivarga) adalah:
1. Dharma: Kebajikan, kebenaran, dan kewajiban.
2. Artha: Kekayaan dan kemakmuran duniawi.
3. Kama: Kesenangan dan pemenuhan keinginan.
- Ketiganya penting, tetapi tujuan akhirnya adalah Moksa, yaitu pembebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian (reinkarnasi).
- Ketamakan (lobha) adalah akar dari semua dosa dan kebodohan, sementara pengendalian diri adalah kunci menuju kejayaan dan kebebasan.
3. Tentang Kebenaran (Satya) dan Kebajikan
- Kebenaran adalah landasan segala sesuatu. Ia adalah perlindungan tertinggi dan penebus dosa teragung.
- Manusia harus bertindak cepat melakukan kebajikan karena hidup tidak pasti dan kematian pasti datang.
- Satu-satunya "teman" yang mengikuti manusia setelah mati adalah Dharma (kebajikan) yang telah dilakukannya selama hidup.
4. Tentang Pembebasan (Moksa)
- Pembebasan dapat dicapai oleh siapa saja, tanpa harus meninggalkan kehidupan duniawi. Kuncinya adalah ketidakmelekatan.
- Seorang Raja sekalipun bisa mencapai Moksa jika ia dapat memusatkan pikirannya pada Brahman (Tuhan/Yang Abadi) dan bebas dari keterikatan pada harta, tahta, dan keluarga.
- Dengan bekal kebijaksanaan, seseorang dapat melihat kesementaraan dunia dan mencapai kedamaian sejati.
5. Pesan Spiritual dan Pengabdian
- Krishna digambarkan sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, dan penyerahan diri kepada-Nya adalah jalan untuk membebaskan diri dari segala kesedihan.
- Buku ini menekankan pentingnya mendengarkan suara hati, merenung, dan mengembangkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan Utama:
Inti pesan buku ini adalah panduan lengkap untuk memimpin dengan adil dan menjalani hidup yang bermakna berdasarkan kebenaran (Dharma), dengan tujuan akhir mencapai pembebasan spiritual (Moksa). Pesannya tidak hanya untuk raja atau pemimpin, tetapi juga untuk setiap orang dalam peran apa pun—di rumah, masyarakat, atau pekerjaan—agar bertindak penuh welas asih, bijaksana, dan bebas dari ketamakan.
Wejangan Bhisma ini ingin agar pembaca terus-menerus merenungkan dan menerapkan nilai-nilai luhur tersebut sehingga dapat membentuk karakter dan memandu pikiran serta perbuatannya.

### 🕉️ Inti Pesan Utama Buku Ini:
1. Bhagavad Gita sebagai Pedoman Hidup Modern
Buku ini menekankan bahwa ajaran Bhagavad Gita masih relevan hingga saat ini, termasuk di masa sulit seperti pandemi Corona. Gita dihadirkan bukan sebagai kitab suci kaku, melainkan sebagai "nyanyian ilahi" yang membawa berkah dan makna dalam kehidupan sehari-hari.
2. Krisis Adalah Bagian dari Perjalanan Hidup
Seperti Arjuna yang bimbang di medan perang Kurusetra, manusia modern juga sering dihadapkan pada kegelisahan, keraguan, dan ketakutan — terutama di tengah krisis seperti PHK, ketidakpastian, dan kehidupan yang serba terbatas.
3. Yoga dan Meditasi sebagai Jalan Keluar
Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami Gita dengan "rasa", melalui meditasi, pernafasan, dan ketenangan batin. Ini adalah undangan untuk melambat, hening, dan menyelami diri.
4. Karma Yoga: Berkarya Tanpa Pamrih
Salah satu pesan terkuat adalah tentang berkarya tanpa keterikatan pada hasil. Ini adalah fondasi dari kebahagiaan sejati dan kebebasan dari stres dan beban duniawi.
5. Melihat Diri sebagai Bagian dari Semesta
Buku ini menekankan pentingnya menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari Brahman — Jiwa Agung. Dengan demikian, kita diajak untuk melihat kesatuan dalam keragaman, mengasihi sesama, dan hidup harmonis dengan alam.
6. Spiritualitas yang Terbuka dan Inklusif
Penulis menegaskan bahwa Gita bukan monopoli agama atau kelompok tertentu. Ia adalah "kebijaksanaan abadi" yang terbuka bagi siapa saja, dari latar belakang mana pun.
7. Menghadapi Dualitas Kehidupan
Buku ini banyak membahas tentang melampaui dualitas: suka-duka, menang-kalah, baik-buruk. Kita diajak untuk tetap seimbang dalam segala situasi.
8. Ajaran untuk Generasi Corona
Khusus di masa pandemi, buku ini menawarkan pencerahan bagi yang resah, kehilangan pekerjaan, atau bingung menghadapi hidup. Gita dijadikan teman dialog dalam menghadapi ketidakpastian.
### 🧘♂️ Pesan Moral yang Disampaikan:
- Hidup adalah medan perang batin, dan kita harus berani menghadapinya dengan kesadaran penuh.
- Krishna adalah simbol suara hati dan kebijaksanaan yang harus menjadi "sais" dalam kereta kehidupan kita.
- Jangan terjebak ritual tanpa makna, tetapi carilah esensi spiritual yang membebaskan.
- Kita semua adalah satu — sama-sama berasal dari dan akan kembali kepada-Nya.
### 📘 Kesimpulan:
Buku ini adalah interpretasi personal dan kontekstual dari Bhagavad Gita yang ditulis dengan bahasa santai, penuh analogi modern (seperti film, game, dan situasi kekinian), serta ditujukan untuk membangkitkan kesadaran spiritual pembaca di tengah tantangan hidup — terutama di era pandemi.
INDONESIA VERSION
“Tahukah kamu...
Meditasi itu bukan soal duduk bersila atau menahan napas lama.
Tapi tentang mengenal siapa dirimu sebenarnya.
Buku Simply Daily Yoga Meditation karya Sogatha Mahardika ngajarin kita satu hal penting:
bahwa hidup ini — adalah latihan kesadaran.
Saat kamu mulai sadar pada tubuhmu, pikiranmu, dan jiwamu...
kamu mulai mengenal Tuhan, lewat dirimu sendiri.
Lakukan meditasi sederhana tiap pagi dan malam.
Ucapkan terima kasih pada tubuhmu, bernapaslah pelan, dan rasakan damai dari dalam.
Karena kedamaian sejati...
bukan sesuatu yang kamu kejar,
tapi sesuatu yang kamu sadari.
✨ Namaste.”
📘 RESUME SINGKAT BUKU
Judul: Simply Daily Yoga Meditation
Penulis: Sogatha Mahardika
🌿 Inti Pesan Buku
💫 5 Poin Utama:
Meditasi adalah seni mengenal diri — siapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya.
Manusia terdiri dari tiga lapisan: fisik, etheric (mental/emosi), dan causal (jiwa).
Kesadaran adalah kunci — tanpa kesadaran sejati, meditasi kehilangan makna.
Latihan sederhana setiap hari — meditasi pagi dan malam, di mana saja, kapan saja.
Hidup bermeditasi adalah hidup penuh kasih, pengabdian, dan keseimbangan.
💬 Pesan Mendalam
Kedamaian bukan dicari di luar, tapi ditumbuhkan dari dalam.
Meditasi membuat manusia berhenti mengejar, dan mulai menyadari.
Meditasi Yoga bukan sekadar latihan duduk diam — ini adalah jalan hidup (Way of Life) untuk mengenal tubuh, pikiran, dan jiwa agar manusia mencapai self realization dan akhirnya mengenal Tuhan.

buku "Risalah Hati" oleh Sogatha Mahardika, inti pesan utamanya dapat disarikan sebagai berikut:
1. Pentingnya Pemurnian Diri dan Hati Nurani: Buku ini menekankan perjalanan spiritual untuk membersihkan hati dan pikiran dari ego, keserakahan, kemarahan, dan segala bentuk "kotoran" batin. Tujuannya adalah mencapai ketenangan, kedamaian, dan kesadaran sejati.
2. Mempraktikkan Ajaran dalam Kehidupan Nyata (Practice What You Preach): Penulis mengkritik para penceramah atau pemuka agama yang hanya pandai berkhotbah tetapi tidak mempraktikkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kebijaksanaan sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.
3. Hidup Selaras dengan Alam dan Semesta: Buku ini mengajak pembaca untuk belajar dari alam, menghargai keberadaan semua makhluk, dan hidup harmonis dengan lingkungan. Kerusakan alam dianggap sebagai cerminan dari kerusakan hati nurani manusia.
4. Berkarya dan Melayani tanpa Pamrih (Tanpa Keterikatan): Tindakan terbaik adalah bekerja dan berkarya dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan, pujian, atau hasil tertentu. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar kita dapat melayani dan bermanfaat bagi orang lain.
5. Menerima Segala Bentuk Kehidupan dengan Syukur dan Ikhlas: Baik suka maupun duka, keberhasilan maupun kegagalan, dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pemurnian karma. Penderitaan bukanlah kutukan, tetapi "vitamin" untuk pertumbuhan jiwa.
6. Mencari Tuhan dalam Diri Sendiri (The Kingdom of God is Within): Penekanan pada pencarian spiritual ke dalam diri melalui meditasi, hening, dan mendengarkan suara hati. Tempat ibadah yang paling utama adalah hati nurani yang bersih.
7. Melampaui Batasan Agama, Suku, Ras, dan Status Sosial: Buku ini menyuarakan pesan persatuan dan cinta kasih universal yang melampaui segala bentuk sekat buatan manusia. Cinta sejati tidak memandang perbedaan.
8. Peringatan dan Harapan untuk Nusantara: Terdapat pesan tentang pentingnya kembali kepada nilai-nilai luhur dan kearifan lokal leluhur Nusantara untuk membangkitkan kembali kejayaan tanah air, serta peringatan akan bahaya jika nurani telah mati.
Secara ringkas, inti pesan buku "Risalah Hati" adalah seruan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri, memurnikan hati, hidup bijak dan penuh cinta kasih dengan mempraktikkan ajaran spiritual dalam setiap tindakan, serta berkontribusi positif bagi sesama dan alam semesta.
No comments:
Post a Comment